Pengumpan:
Tulisan
Komentar

cd gratis

tdi nurullah

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.QS Ali Imran 123

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ ءَالَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ(125)

ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.QS Ali Imran 125

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(160)

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.QS Ali Imran 160

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ(14)

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,QS At Taubah 14

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا(80)

Dan katakanlah: (dalam doamu) “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.QS Al Isro 80

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ(39)

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi (dianiyaya), karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.QS Al Hajj 39

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ(40)

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.QS Al Haj 40

مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ(93)

selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?”QS As Syuara 93

بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ(5)

karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.QS Ar Rum 5

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ(47)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.QS Ar Rum 47

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ(51)

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),QS Al Mukmin 51

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ(7)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.QS Muhammad 7

فَقَالَ اللَّهُمَّ صَبْرًا أَوِ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ *

Rasulullah s.a.w berdoa : Ya Allah, berilah aku kesabaran. Hanya Allahlah tempat meminta pertolongan *(HR Bukhari & Muslim)


Syarat Pengisian TDI-Nurullah
1.Menjalankan sholat fardhu lima waktu dan membaca amalan yang diberikan;
2.Berbakti kepada orang tua;
3.Tidak boleh minum-minuman keras, Narkotik/obat terlarang, berjudi, mencuri dan Zina.
4.Tidak boleh memakai Zimat, Tawasul, untalan, ilmu hitam, sihir, tenung, meramal, menundi nasib (azlam), tatayur, percaya pada mitos, menyediakan sesajen, kemenyan, bersahabat dengan Jin.
5.Tidak boleh Takabur, Sombong, Ria,Ujub & Perbuatan yang dilarang agama (Islam) umumnya.
6.Segala bentuk untalan, ilmu hitam, kekuatan mantera, mandi, barajah, menjadi hilang di tubuh.
7. Biaya administrasi TDI baru (mahar) jarak jauh via telpon Rp. 500.000,-(lima ratus ribu rupiah) dan jika datang sendiri ke alamat hanya :
Paket A : Standard bea hanya Rp.350.000,-(Tiga ratus lima puluh ribu rupiah).
Paket B : Plus kemampuan pengobatan (syifa), bea Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah).
Paket C : Plus miftahur rizki (daya tarik rezki) bea Rp. 950.000,- (sembilan ratus lima puluh ribu rupiah).
Paket D : TDI Program Khusus kuadrat Bea Rp.2.500.000,-(dua juta lima ratus rupiah).
8. Naik tingkat biaya administrasi (mahar) Rp.200.000,- (dua ratus rihu rupiah)
semua memperoleh Bonus buku,CD,boleh konsultasi agama Hk.Islam, waris,fiqh,Tauhid & Tasawuf

Contoh Formulir

TENAGA DALAM ISLAMY (TDI) NURULLAH
Jl. Rawasari 18 N0 2 Telp. (0511) 7444447 Banjarmasin Kalimantan Selatan

FORMULIR PENDAFTARAN
NAMA LENGKAP/BIN : _______________________________________
TEMPAT/TGL.LAHIR : _______________________________________
STATUS KAWIN : ______________________________________
PEKERJAAN : ______________________________________

JABATAN PEKERJAAN :_____________________________________________
ALAMAT SEKARANG :___________________________________RT_____No.
Gg.___________Kel._______________Kec._________
Kodya/Kab._____________________kode Pos_______
NO. TELPON :Rumah : _________________toko/usaha: ____________
Kantor : _________________Handphone:____________
GOLONGAN DARAH : _______
KELUHAN PENYAKIT : _____________________________________________
Assalaamu ~alaikum Wr. Wb.
Saya bersedia menerima pengisian TDI Nurullah sesuai dengan persyaratannya,sbb:
1. Menjalankan sholat fardhu lima waktu dan membaca amalan yang diberikan;
2. Berbakti kepada orang tua;
3. Tidak minum-minuman keras, Narkotik/obat terlarang, berjudi, mencuri dan Zina.
4. Tidak memakai Zimat, Tawasul, untalan, ilmu hitam, sihir, tenung, meramal, menundi nasib (azlam), tatayur, percaya pada mitos, menyediakan sesajen, kemenyan, bersahabat dengan Jin.
5. Tidak Takabur, Sombong, Ria,Ujub & Perbuatan yang dilarang agama (Islam) umumnya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan kemauan sendiri, apabila nanti saya melanggar persyaratan di atas, saya bersedia menerima resiko yang memungkinkan kekuatan TDI-N dimaksud menjadi tidak berfungsi.
Wassalaamu ~alaikum Wr. Wb.
Banjarmasin………………………200
Saya yang diisi

A. Masalah Tabaruk dan TDI Nurullah ? : Bertabaruk Dengan Kuburan Keramat, benda-benda Pusaka dan lainnya (Tinjauan agama dan Hubungannya dengan Tenaga Dalam)
Jawab :
Di antara sekian banyak pertanyaan, tabaruk juga sering ditanyakan kepada saya. Tentu saja akan sangat menarik untuk dibahas secara tersendiri. Yang aneh, sekian kali saya jelaskan tetap saja masalah tabaruk termasuk masalah yang disukai untuk dipertanyakan. Di samping masalah ini banyak berkait dengan masalah aqidah keagamaan sehingga memerlukan penjelasan khusus. Untuk itu diperlukan bahasan secara tertulis agar pengetahuan ini dapat ditularkan kepada mereka. Tanpa saya sebut siapa saja yang bertanya.
Pertama,
Bila kita memahaminya dari dasar dan dalil agama bahwa pengertian tabaruk artinya mencari berkah kepada Allah. Istilah tabaruk sendiri berasal dari bahasa arab yakni barakah, berkat, yang bermakna, keuntungan atau bertambah. Misalnya untuk mendapatkan berkah Allah maka seseorang itu harus selalu taat kepada perintahNYA, rajin beribadah dan beragamal kebajikan. Hanyasanya pengertian tersebut menjadi sangat luas sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam praktek masyarakat pada umumnya. Misalnya :
a. Pergi ke makam-makam yang dianggap keramat dengan tujuan mendapat berkah guna dikabulkan segala hajat, memperoleh kebahagiaan, keselamatan, cepat jodoh, dll. Namanya bertabaruk dengan kuburan keramat.
b. Mengambil tanah atau kain atau lainnya di makam keramat untuk disimpan dan dijadikan zimat tertentu atau syarat tertentu. Dinamai dengan istilah bertabaruk pada benda kuburan keramat.
c. Memelihara keris pusaka atau benda lain untuk disimpan atau dijadikan zimat, sumber kekuatan ataupun keselamatan atau wibawa, dll. Diistilahkan dengan bertabaruk pada benda-benda pusaka.
d. Menyimpan batu-batu tertentu, baik dengan cara dibungkus dengan kain tertentu ataupun dipakai dijadikan cincin untuk dipercayai sebagai kunci atau zimat keselamatan, kesehatan, mahabbah, wibawa. Ini diistilahkan dengan bertabaruk dengan batu-batu.
e. Dalam menyambut bulan Suro, di Keraton Pasunanan Solo, sering diadakan upacara kirab pusaka. Di antara yang dikirab itu ada seekor kerbau yang mereka sebut dengan Kiyai Slamet. Ketika nanti Kiyai Slamet itu membuang kotorannya, para pengunjung akan berebutan mengambilnya untuk dibawa pulang. Menurut mereka tahi kerbau itu akan membawa berkah hidup mereka. Ini namanya bertabaruk dengan tahi kerbau.
f. Pada pesta perkawinan adat Banjar biasanya dihamburkan beras kuning (beras biasa yang diwarnai kuning) kepada kedua mempelai saat mereka turun dari rumah. Terkadang yang dihamburkan berupa uang receh atau bungkusan kecil gula merah. Konon, mereka yang memperoleh dari hasil rebutan itu (uang recehan atau gula merah) akan mendapat berkah berupa cepat jodoh. Sedang kedua mempelai yang dihamburi beras kuning akan mendapat berkah pula berupa kesuburan banyak anak dan luas rezeki.
Dalam istilah agama sebenarnya berkah hanya ditujukan kepada Allah sebagai sumber berkah itu sendiri. Dengan kata lain, mencari berkah berarti mencari kebaikan ilahiyah (Tuhan) yang ada pada sesuatu seperti perkataan Ar Ragib dalam mufradat, sbb :
البركة : ثُبُوْتُ الْخَيْرِ اْلاِلَهِيْ فِي الشَّئِْ
Berkah itu adalah tetapnya kebaikan Tuhan pada sesuatu.
Apa yang terjadi dalam masyarakat seringkali tidak lagi melihat Tuhan sebagai sumber berkah yang seharusnya dicarinya sebagaimana contoh-contoh yang telah kita temukan. Dalam konteks tersebut terjadi sikap prilaku yang tidak masuk akal dalam mencari berkah. Misalnya mencari berkah tahi kerbau, batu, dll. Mungkinkah tahi kerbau atau batu menjadikan kita selamat ?
Jika anda memakan nasi untuk memperoleh berkah dari nasi itu berupa kenyang dan kesehatan diri maka hal itu masih dapat diterima akal (ma’qul). Tetapi jika anda mengambil nasi itu sebagiannya anda bungkus dengan rapih, kain warna kuning, bukan untuk anda makan tetapi anda tempatkan di atas pintu rumah anda dengan tujuan agar terhindar dari pencurian, maka perbuatan ini sudah tidak masuk akal lagi, sedang agama memandangnya sebagai kepercayaan yang menyesatkan. Demikian pula batu, bila anda mengambilnya karena indahnya batu itu kemudian anda jadikan cincin untuk sekedar menghiasi tangan dan guna menyenangkan hati anda sendiri maka hal itu masih dapat diterima dan masuk akal. Agama sendiri tidak menyalahkannya. Tetapi jika anda telah menganggap batu itu memiliki nilai kekuatan, membawa berkah keselamatan, meluaskan rezki, cepat naik pangkat maka itu berarti anda telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dan menyesatkan menurut agama. Demikianlah seterusnya.
Hal-hal demikian sebenarnya telah diprediksi oleh Rasulullah saw di mana di antara orang mencari berkah biasanya di kubur yang dianggap keramat untuk diambil benda-benda di sana dan dijadikan zimat pembawa berkah. Oleh karenanya Rasul saw pernah mengatakan :
لاَتَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ اَيْنَمَاكُنْتُمْ فَإنْ صَلاَ تَكُمْ تَبْلُغَنِيْ
Janganlah sampai kalian jadikan kuburku hari raya (diziarahi untuk mencari berkah) tetapi (cukup kamu) membaca salawat atas diriku. Maka sesungguhnya, di manapun kalian bersalawat niscaya akan sampai kepadaku.(HR.Abu Daud)
Begitu takutnya beliau terhadap penyimpangan pengertian umat Islam hanya karena tradisi lama Jahiliyah bertabaruk pada makam-makam keramat atau para nabi, Imam Malik dalam Muattha meriwayatkan himbauan Nabi saw kepada sahabatnya, sbb :
لاَتَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثْنًا يَعْبُدُمِنْ دُوْنِ اللهِ أَشَدَّغَضَبَ اللهِ عَلَىقَوْمِ التَّخَذُوْ اقُبُوْرُ أَنْبِيَا ئِهِمْ مَشَاجِدًا
Janganlah engkau jadikan kuburku menjadi berhala disembah selain Allah. Sungguh Allah marah terhadap kaum yang menjadikan kubur para nabi sebagai mesjid.(HR.Imam Malik)
Dalam ajaran Islam mencari berkah haruslah sesuai dengan petunjuk syariah itu sendiri berupa petunjuk yang ada pada Al Qur’an maupun hadis dan tidak bertentangan dengan keduanya. Nabi saw mengatakan :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أًمْرَيْنِ لَنْ تُضِلُّوْا إِنْ تَمَسَكْتُمْ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَّرَسُوْلِهِ
Aku tinggalkan dua perkara di mana tidak akan sesat kalian jika tetap berpegang pada keduanya yakni kitab Allah (al Qur’an) dan Sunnah Rasul-NYA / prilaku hidup Nabi saw.(HR. Hakim)
Di antara cara bertabaruk yang benar menurut petunjuk agama, antara lain sbb :
Berdoa atau beribadah pada waktu sepertiga malam. Berkahnya berupa lebih cepat dikabulkan permintaan / doa berdasarkan hadis Nabi saw, dari Abu Hurairah beliau bersabda :
إِذَا بَقِيَ ثُلُثُ اللَّيْلِ يَنْزِلُ اللهُ تَبَرَكَ وَتَعَلى فَيَقُوْلُ مَنْ ذَاالَّذِيْ يَدْ عُوْنِيْ فَاسْتَجِيْبُ لَهُ وَمَنْ ذَاالَّذْيْ يَسْتَكْشِفُ الضُّرُّ فَاكْشِفُهُ عَنْهُ وَمَنْ ذَاالَّذِيْ يَسْتَرْزُقُنِيْ فَارْزُقُهُ حَتّى يَنْفَجِرَالْفَجْرُ
Apabila tersisa sepertiga malam, Allah yang Maha Tinggi menurunkan berkah seraya berkata,”Barangsiapa yang berdoa kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, barangsiapa yang mohon dihindarkan dari bahaya sesuatu niscaya akan Aku hindarkan dan barangsiapa bermohon rezki kepadaKU niscaya akan aku beri hingga terbit fajar”.(HR.Bukhari)
Mengambil berkah agar berdoa dikabulkan oleh Allah di waktu antara azan dan iqomah berdasarkan riwayat yang bersumber dari Anas Ibn Malik r.a.,Nabi saw bersabda :
أَلدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ لاَ يُرَدُّ
Doa antara Azan dan iqomah tidak akan ditolak.(HR.An Nasaa’i)
Mencari berkah agar bertambah berlipat ganda pahala di sisi Allah di Mesjid yang telah ditunjuk oleh Nabi saw seperti mesjid Nabawi dan Masjidil Haram. Annas Ibn Malik mengatakan bahwa Nabi saw bersabda :
صَلاَةُالرَّجُلِ فِيْ بَيْتِهِ بِصَلاَةٍ وَصَلاَ تُهُ فِيْ مَسْجِدِ الْقَبَا ئِلِ بِخَمْسِ وَعِشْرِيْنَ صَلاَةٍوَصَلاَةٌ فِيْ الْمَسْجِدِ الَّذِيْ يَجْمَعُ فِيْهِ بِخَمْسِ مِأَةِصَلاَةٍ وَصَلاَةٌ لِيْ فِىالْمَسْجِدِالأَْقْصى بِخَمْسِيْنَ أَلْفِ صَلاَةٍ وَصَلاَةٌ فِىالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِأَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ
Sholat seseorang di rumahnya berniali satu sholat sedang sholat di mesjid bernilai 25 sholat. Kemudian sholat yang dikerjakan di mesjid secara berjamaah bernilai 50 sholat sedang sholat di mesjid Aqso bernilai 50.000 dan sholat di masjidil Haram bernilai 100.000.(HR.Ibnu Majah)
Amal kebajikan yang dituntun berdasarkan petunjuk syariah keagamaan lainnya. Misalnya bersedekah akan memberkahi harta kita dan menolak bala sebagaimana Nabi saw mengatakan :
أَلصَّدَ قَةُ تُدْ فَعُ الْبَلاَ
Bahwa sadaqoh itu menolak bala.
Demikian pula menolong orang lain, memperbanyak ibadah-ibadah sunnat, dll.
Dengan demikian jelaslah sudah, tabaruk memiliki pengertia khusus yakni mencari berkah pada sesuatu yang telah ditunjuksyariah yang biasanyaterletak pada fadhilah suatu perbuatan, baik yang diperintahkan kita untuk mengerjakannya (kewajiban agama), anjuran (sunat), meninggalkan yang dilarang agama (haram).
Ke dua
Ditinjau dari segi logika ketauhidan adalah jelas bahwa berkah hanya ada pada Allah SWT. Seseorang hanya akan memperolehnya dengan cara mengikuti petunjukNYA. Dari sini juga dapat dipahami landasan ketauhidan kita yang harus diyakini bahwa berkah hanyalah dari Allah.bila kita mencari berkah bukan pada Allah berarti kita telah menyimpang dari kehendak ketauhidan itu sendiri yang bersifat tunggal, absolut bagi Allah. Bertauhid berarti meniadakan kekuasaan, kekuatan, kelebihan, keberkahan, keagungan, dan ketergantungan pada selain Allah. Tidak boleh ada dualisme berkah / pengertian menduai (misal pada Allah dan pada kekuatan lain semisal benda pusaka, kuburan keramat, wali, batu, tahi kerbau, dll.). Jika mendua berarti telah berbuat syirik.
Ketauhidan pada diri seseorang akan memberikan ketenanngan lahir dan batin pada orang tersebut karena lepasnya segala tujuan kecuali mencari harapan satu-satunya kepada Allah. Jiwanyapun selalu senang bertaqarub / mendekatkan diri kepada Allah secara langsung agar dapat merasakan nikmatnya dalam lautan taqarub. Dalam lautan taqarub itulah ia merasakan akan kebesaran, keagungan , kekuasaan, dan keberkahan yang Maha Agung yang tiada bandingan dan sekutunya (walam yakun lahu kufuan ahad) sehingga dalam prilaku dan pikirannya tidak ada lagi bayangan ada kesamaan dan penyerupaan kemampuan, keagungan, kekuasaan, dan keberkahan selain pada Tuhannya. Inilah ajaran ketauhidan yang murni bahwa harapan sepenuhnya diaplikasikan kepada Allah secara langsung. Jadi alangkah sangat bertentangannya jika seseorang mengaku dirinya muslim yang bertauhid masih saja melakukan tabaruk kepada sesuatu yang bukan kepada Allah atau menyalahi dari titahNYA. Bagaimana mungkin benda-benda atau kubur keramat, wali-wali yang telah meninggal dunia dapat dijadikan mediator agar Allah memberikan berkah kepada mereka ? sementara cara-cara itu tidak diajarkanNYA. Terlebih lagi justru bertentangan dengan norma-norma perintahNYA dan logika ketauhidan.
Ke tiga
Tenaga dalam Islamy khususnya TDI Nurullah ingin menjalankan norma ketauhidan secara konsekuen dan takluk kepada batas-batas syariah. Berkait erat antara tenaga dalam dengan masalah tabaruk kepada benda-benda atau kubur keramat, dalam TDI Nrullah justru hal demikian dilarang. Alasannya karena tabaruk seperti demikian tidak ada hubungannya dengan tenaga dalam terlabih lagi bertentangan dengan jiwa ketauhidan dan agama. Minimal dalam arti logika ketauhidan. Mengapa justru dilarang ? karena pada kenyataannya hati-jiwa menjadi mendua tidak lagi terfokus pada tawakal langsung kepada Allah. Padahal suatu td sangat memprioritaskan pada tawakal langsung kepada Allah SWT.
Ada orang berkata, “Bukankah benda-benda itu keramat atau mengandung kekuatan karena Allah juga yang melimpahkan kekuatan pada benda itu, mengapa tidak kita manfaatkan ? Jawabannya sbb :
Darimana anda yakin benda-benda itu secara langsung diberkati Tuhan ? apakah justru sebaliknya merupakan limpahan kekuatan setan untuk menipu orang ? justru perkataan itu sulit dibuktikan. Bila dijawab “ya, bahwa Tuhan secara langsung memberkatinya” maka akan timbul pertanyaan lain, apakah semua benda di alam ini dapat dimanfaatkan untuk bertabaruk ? apakah juga berarti boleh bertabaruk pada rantai babi ? sebab apa ia merupakan berkat langsung dari Allah ? jika tidak, mengapa ? padahal anda memperbolehkan bertabaruk pada benda-benda tertentu dan kubur keramat ? apa bedanya dan mengapa harus dibedakan ?
Pada kenyataan di lapangan, sekalipun terkadang benda-benda itu membuahkan hasil suatu kekuatan, namun selalu saja sifatnya merusak kejiwaan si pemakainya sebab persangkaannya telah keliru memahami Tuhan sebagai Pelindung yang sesungguhnya. Di samping secara jelas sudah berbeda dengan masalah td, di mana faktor keterampilan dan kemampuan diri yang harus ditampilkan dan diolah bukan memanfaatkan benda. Di sini terjadi penyamaran pengakuan. Mengaku menggunakan td tetapi justru memanfaatkan suatu benda untuk bertabaruk kepadanya.
Tenaga dalam Islamy seharusnya selalu mendasarkan pada olah jiwa untuk selalu bertauhid kepada Allah agar tawakal kepadaNYA benar-benar dapat dilakukan. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an, sbb :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ(159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS.Ali Imran:159)

Masalah Bersahabat dengan Jin (Tinjauan Agama dan Hubungannya dengan Tenaga Dalam)
Jawab :
Ada banyak pertanyaan tentang masalah ini ditujukan kepada kita. Antara lain bahwa mengapa kita dilarang bersahabat dengan jin padahal dengan melakukan persahabatan dengan mereka akan sangat membantu dalam mengatasi berbagai problem kehidupan bahwa akan memperkuat tenaga dalam yang telah ada pada diri kita. Terkadang ditanyakan, bukankah jin adalah makhluk Allah juga yang memiliki banyak persamaan dengan manusia, mengapa kita tidak saling tolong-menolong kepada mereka, padahal tolong-menolong itu merupakan sunah agama. Atau seperti pertanyaan , bukankah Nabi Sulaiman juga bersahabat dengan para jin ? bahkan merupakan suatu mukjizat Tuhan atas dirinya ? dll.
Di sini saya akan meringkaskannya, sbb :
Pertama
Bila ditinjau dari segi agama, secara mutlak dan jelas Allah SWT menegaskan dalam Al Qur’an, sbb :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا(6)
Dan bahwasanya ada saja beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara Jin, maka Jin-jin itu justru hanya menambahi mereka dosa dan kesalahan.(QS.Al Jin:6)
Setelah secara jelas ayat Al Qur’an ini diterangkan bahwa ada larangan keras dalam agama dalam bersahabat dengan jin, terkadang masih saja dibuat-buat pertanyaan. “Bukankah ayat itu menjelaskan hanya pada larangan meminta perlindungan saja, bukan bersahabat ? tentu saja dapat dijawab bahwa persahabatan dengan jin secara otomatis akan meminta pertolongan atau perlindungan kepadanya. Jika seandainya ia mengatakan bahwa bersahabat hanya dalam arti berteman, tidak minta tolong sedikitpun kepadanya tetap saja terlarang, karena pada ayat itu juga jelas pada jin-jin akan membawa kita kepada lembah dosa dan kesalahan. Bersahabat berarti telah terjadi komunikasi dan komunikasi itu sendiri akan terjadi pengaruh-mempengaruhi bahkan justru karena komunikasi / pembicaraan itu pula jin-jin dapat menipu manusia.
Terkadang juga ditanyakan bahwa bagaimana jika persahabatan itu hanya sebatas ingin mengetahui informasi hal yang gaib-gaib saja, maka dapat dijawab, sbb :
Tetap saja tidak boleh karena dengan demikian berarti kita minta tolong kepadanya dan yang namanya meminta tolong / minta informasi pastilah ada harganya bagi jin-jin itu. Pastilah jin-jin itu akan minta pamrih sesuatu kepada orang tersebut. Di sinilah mulai terjadinya penipuan untuk menjatuhkannya ke dalam dosa dan kesalahan.
Menurut Allah dalam Al Qur’an, para jin tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui perkara gaib, firman Allah tersebut, sbb :
وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا(10)
Para jin itu berkata,”Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah dikehendaki kejahatan untuk orang-orang yang di bumi atau Tuhan menghendaki akan kebaikan bagi orang-orang itu.(QS.Al Jin:10)
Adalah menjadi jelas bahwa sekalipun sifatnya tolong-menolong kedua belah pihak, menurut dua ayat di atas tetap saja merupakan larangan secara mutlak.
Adapun menyangkut kisah Nabi Sulaiman as jelas merupakan mukjizat yang sifatnya langsung karunia Allah bukan rekayasa melewati persahabatan ( baca QS. As-Sabaa: 12-14). Bahkan harus pula diperhatikan bahwa Nabi Sulaiman as ketika itu sebagai seorang raja diantara manusia dan jin-jin. Jadi ia memerintah dikerajaannya yang terdiri dari bangsa manusia dan jin. Bukan justru minta pertolongan dari mereka, tetapi merekalah yang takluk dan tunduk atas perintahnya.
Bagaimana jika bersahabat dengan jin muslim saja ? bukankah Al Qur’an menjelaskan adanya jin muslim yang suka berbuat kebaikan ? maka jawabnya tetap saja tidak boleh karena ayat Al Qur’an tadi berbicara secara umum tanpa pengecualian. Di samping itu seharusnya juga dipahami bahwa jika jin itu muslim yang taat beragama maka pastilah ia tidak mau bersahabat dengan manusia karena ada larangan ayat Al Qur’an. Sebab pedoman mereka juga tidak lain adalah Al Qur’an. Benarlah seperti perkataan Syekh Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan dalam kitab al fatawil hadisah h.104, sbb :
إِنَّ التَّقَرُّبَ إِلَىالرُّحَا نِيَّا تِ وَخِدْ مَةَ مُلُوْكِ الْجَا نَّ مِنَ السِّحْرِ
Sesungguhnya menghampirkan diri kepada ruh-ruh dan berkhidmat (melakukan persahabatan) dengan raja-raja jin adalah termasuk dalam bagian sihir.
Ke dua
Larangan agama tersebut ternyata juga sangat berkait dalam masalah ketauhidan yang mengajarkan kepada manusia agar selalu hanya minta pertolongan dan berkhidmat kepada Allah SWT. Susah maupun senang harus selalu diserahkannya kepada Allah. Di saat senang ia semestinya selalu memuji dan bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan pada dirinya. Sebaliknya di saat menerima kesusahan, tauhid mengajarkannya agar ia dapat bersabar dan selalu tetap istiqomah meminta pertolongan kepada Allah. Bukan justru meminta pertolongan dan penyelesaian masalah kepada para jin yang kerjanya hanya mampu menipu manusia.
Terlebih lagi persahabatan dengan jin ternyata mengharuskannya untuk menyediakan sesuatu yang dianggap menyenangkan jin. Misalnya memberikan suguhan sesajen, dupa / kemenyan di waktu-waktu tertentu. Keadaan ini jelas merupakan pengkhidmatan khusus kepada jin sahabatnya. Bahkan bila ia lupa melakukannya, maka jin itu biasanya akan mengingatkannya. Terkadang dengan cara merasuki dirinya atau keluarganya sehingga tidak sadarkan diri bahkan mengamuk / hilang ingatan.
Ke tiga
Berkait erat dengan masalah tenaga dalam, maka sebagaimana dipahami bahwa tenaga dalam bertumpu pada kemampuan keterampilan mengolah diri. Maka aspek yang dilahirkan daripadanya merupakan murni karya mandiri dengan titik kebergantungan kepada Allah. Maka jika seorang pengguna td bersahabat dengan jin tentu saja bertentangan dengan tabiat td yang dipelajarinya. Sebab bersahabat dengan jin akan merusak keyakinan yang telah ada, sedang td bertumpu pada keyakinan.
Apabila ia berkata akan sanggup memelihara keduanya, maka jelaslah td yang dimilikinya bukan lagi td murni sebagaimana lazimnya. Boleh jadi merupakan rangkaian tipu daya jin itu sendiri sebagaimana yang dinyatakan QS.Al Jin : 6. Pada kenyataannya, orang yang menjalin persahabatan dengan jin akan muncul sifat-sifat yang aneh, bukan hanya bertentangan dengan agama tetapi juga bertentangan dengan tabiat pengguna tenaga dalam, antara lain, sbb :
Sering kesurupan atau tidak sadarkan diri ketika dimasuki jin atau dipengaruhinya sekalipun tidak dikehendaki oleh orang yang menjalin persahabatan itu. Baik secara sengaja dilakukannya ataupun tidak secara sengaja. Ini jelas bertentangan dengan agama dan td yang selalu mengharuskan mawas diri dan selalu sadar diri.
Sering berfikir yang aneh dan tak masuk akal. Sebab ia akan lebih mementingkan petunjuk sahabatnya dari bangsa jin ketimbang memelihara kemampuan akal pikirannya. Tegasnya, cara berfikirnya akan berubah dari yang manusiawi kepada cara berfikir yang magic / mistik. Cara ini juga bertentangan dengan agama dan td yang selalu memprioritaskan akal sebagai alat senjata td itu sendiri. Di sini kesadaran akal dijadikan tumpuan kemampuan dari konsentrasi.
Dengan demikian jelaslah jawaban yang sesungguhnya bahwa persahabatan dengan jin tidak baik, berisiko kesesatan aqidah, bertentangan dengan agama maupun tenaga dalam. Sebenarnya banyak lagi risiko kemudaratan yang tidak dapat disampaikan. Mungkin akan lebih cocok jika dibahas secara tersendiri dalam sebuah buku tentangnya.

A. Masalah Tabaruk dan TDI Nurullah ? : Bertabaruk Dengan Kuburan Keramat, benda-benda Pusaka dan lainnya (Tinjauan agama dan Hubungannya dengan Tenaga Dalam)
Jawab :
Di antara sekian banyak pertanyaan, tabaruk juga sering ditanyakan kepada saya. Tentu saja akan sangat menarik untuk dibahas secara tersendiri. Yang aneh, sekian kali saya jelaskan tetap saja masalah tabaruk termasuk masalah yang disukai untuk dipertanyakan. Di samping masalah ini banyak berkait dengan masalah aqidah keagamaan sehingga memerlukan penjelasan khusus. Untuk itu diperlukan bahasan secara tertulis agar pengetahuan ini dapat ditularkan kepada mereka. Tanpa saya sebut siapa saja yang bertanya.
Pertama,
Bila kita memahaminya dari dasar dan dalil agama bahwa pengertian tabaruk artinya mencari berkah kepada Allah. Istilah tabaruk sendiri berasal dari bahasa arab yakni barakah, berkat, yang bermakna, keuntungan atau bertambah. Misalnya untuk mendapatkan berkah Allah maka seseorang itu harus selalu taat kepada perintahNYA, rajin beribadah dan beragamal kebajikan. Hanyasanya pengertian tersebut menjadi sangat luas sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam praktek masyarakat pada umumnya. Misalnya :
a. Pergi ke makam-makam yang dianggap keramat dengan tujuan mendapat berkah guna dikabulkan segala hajat, memperoleh kebahagiaan, keselamatan, cepat jodoh, dll. Namanya bertabaruk dengan kuburan keramat.
b. Mengambil tanah atau kain atau lainnya di makam keramat untuk disimpan dan dijadikan zimat tertentu atau syarat tertentu. Dinamai dengan istilah bertabaruk pada benda kuburan keramat.
c. Memelihara keris pusaka atau benda lain untuk disimpan atau dijadikan zimat, sumber kekuatan ataupun keselamatan atau wibawa, dll. Diistilahkan dengan bertabaruk pada benda-benda pusaka.
d. Menyimpan batu-batu tertentu, baik dengan cara dibungkus dengan kain tertentu ataupun dipakai dijadikan cincin untuk dipercayai sebagai kunci atau zimat keselamatan, kesehatan, mahabbah, wibawa. Ini diistilahkan dengan bertabaruk dengan batu-batu.
e. Dalam menyambut bulan Suro, di Keraton Pasunanan Solo, sering diadakan upacara kirab pusaka. Di antara yang dikirab itu ada seekor kerbau yang mereka sebut dengan Kiyai Slamet. Ketika nanti Kiyai Slamet itu membuang kotorannya, para pengunjung akan berebutan mengambilnya untuk dibawa pulang. Menurut mereka tahi kerbau itu akan membawa berkah hidup mereka. Ini namanya bertabaruk dengan tahi kerbau.
f. Pada pesta perkawinan adat Banjar biasanya dihamburkan beras kuning (beras biasa yang diwarnai kuning) kepada kedua mempelai saat mereka turun dari rumah. Terkadang yang dihamburkan berupa uang receh atau bungkusan kecil gula merah. Konon, mereka yang memperoleh dari hasil rebutan itu (uang recehan atau gula merah) akan mendapat berkah berupa cepat jodoh. Sedang kedua mempelai yang dihamburi beras kuning akan mendapat berkah pula berupa kesuburan banyak anak dan luas rezeki.
Dalam istilah agama sebenarnya berkah hanya ditujukan kepada Allah sebagai sumber berkah itu sendiri. Dengan kata lain, mencari berkah berarti mencari kebaikan ilahiyah (Tuhan) yang ada pada sesuatu seperti perkataan Ar Ragib dalam mufradat, sbb :
البركة : ثُبُوْتُ الْخَيْرِ اْلاِلَهِيْ فِي الشَّئِْ
Berkah itu adalah tetapnya kebaikan Tuhan pada sesuatu.
Apa yang terjadi dalam masyarakat seringkali tidak lagi melihat Tuhan sebagai sumber berkah yang seharusnya dicarinya sebagaimana contoh-contoh yang telah kita temukan. Dalam konteks tersebut terjadi sikap prilaku yang tidak masuk akal dalam mencari berkah. Misalnya mencari berkah tahi kerbau, batu, dll. Mungkinkah tahi kerbau atau batu menjadikan kita selamat ?
Jika anda memakan nasi untuk memperoleh berkah dari nasi itu berupa kenyang dan kesehatan diri maka hal itu masih dapat diterima akal (ma’qul). Tetapi jika anda mengambil nasi itu sebagiannya anda bungkus dengan rapih, kain warna kuning, bukan untuk anda makan tetapi anda tempatkan di atas pintu rumah anda dengan tujuan agar terhindar dari pencurian, maka perbuatan ini sudah tidak masuk akal lagi, sedang agama memandangnya sebagai kepercayaan yang menyesatkan. Demikian pula batu, bila anda mengambilnya karena indahnya batu itu kemudian anda jadikan cincin untuk sekedar menghiasi tangan dan guna menyenangkan hati anda sendiri maka hal itu masih dapat diterima dan masuk akal. Agama sendiri tidak menyalahkannya. Tetapi jika anda telah menganggap batu itu memiliki nilai kekuatan, membawa berkah keselamatan, meluaskan rezki, cepat naik pangkat maka itu berarti anda telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dan menyesatkan menurut agama. Demikianlah seterusnya.
Hal-hal demikian sebenarnya telah diprediksi oleh Rasulullah saw di mana di antara orang mencari berkah biasanya di kubur yang dianggap keramat untuk diambil benda-benda di sana dan dijadikan zimat pembawa berkah. Oleh karenanya Rasul saw pernah mengatakan :
لاَتَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ اَيْنَمَاكُنْتُمْ فَإنْ صَلاَ تَكُمْ تَبْلُغَنِيْ
Janganlah sampai kalian jadikan kuburku hari raya (diziarahi untuk mencari berkah) tetapi (cukup kamu) membaca salawat atas diriku. Maka sesungguhnya, di manapun kalian bersalawat niscaya akan sampai kepadaku.(HR.Abu Daud)
Begitu takutnya beliau terhadap penyimpangan pengertian umat Islam hanya karena tradisi lama Jahiliyah bertabaruk pada makam-makam keramat atau para nabi, Imam Malik dalam Muattha meriwayatkan himbauan Nabi saw kepada sahabatnya, sbb :
لاَتَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثْنًا يَعْبُدُمِنْ دُوْنِ اللهِ أَشَدَّغَضَبَ اللهِ عَلَىقَوْمِ التَّخَذُوْ اقُبُوْرُ أَنْبِيَا ئِهِمْ مَشَاجِدًا
Janganlah engkau jadikan kuburku menjadi berhala disembah selain Allah. Sungguh Allah marah terhadap kaum yang menjadikan kubur para nabi sebagai mesjid.(HR.Imam Malik)
Dalam ajaran Islam mencari berkah haruslah sesuai dengan petunjuk syariah itu sendiri berupa petunjuk yang ada pada Al Qur’an maupun hadis dan tidak bertentangan dengan keduanya. Nabi saw mengatakan :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أًمْرَيْنِ لَنْ تُضِلُّوْا إِنْ تَمَسَكْتُمْ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَّرَسُوْلِهِ
Aku tinggalkan dua perkara di mana tidak akan sesat kalian jika tetap berpegang pada keduanya yakni kitab Allah (al Qur’an) dan Sunnah Rasul-NYA / prilaku hidup Nabi saw.(HR. Hakim)
Di antara cara bertabaruk yang benar menurut petunjuk agama, antara lain sbb :
Berdoa atau beribadah pada waktu sepertiga malam. Berkahnya berupa lebih cepat dikabulkan permintaan / doa berdasarkan hadis Nabi saw, dari Abu Hurairah beliau bersabda :
إِذَا بَقِيَ ثُلُثُ اللَّيْلِ يَنْزِلُ اللهُ تَبَرَكَ وَتَعَلى فَيَقُوْلُ مَنْ ذَاالَّذِيْ يَدْ عُوْنِيْ فَاسْتَجِيْبُ لَهُ وَمَنْ ذَاالَّذْيْ يَسْتَكْشِفُ الضُّرُّ فَاكْشِفُهُ عَنْهُ وَمَنْ ذَاالَّذِيْ يَسْتَرْزُقُنِيْ فَارْزُقُهُ حَتّى يَنْفَجِرَالْفَجْرُ
Apabila tersisa sepertiga malam, Allah yang Maha Tinggi menurunkan berkah seraya berkata,”Barangsiapa yang berdoa kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, barangsiapa yang mohon dihindarkan dari bahaya sesuatu niscaya akan Aku hindarkan dan barangsiapa bermohon rezki kepadaKU niscaya akan aku beri hingga terbit fajar”.(HR.Bukhari)
Mengambil berkah agar berdoa dikabulkan oleh Allah di waktu antara azan dan iqomah berdasarkan riwayat yang bersumber dari Anas Ibn Malik r.a.,Nabi saw bersabda :
أَلدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ لاَ يُرَدُّ
Doa antara Azan dan iqomah tidak akan ditolak.(HR.An Nasaa’i)
Mencari berkah agar bertambah berlipat ganda pahala di sisi Allah di Mesjid yang telah ditunjuk oleh Nabi saw seperti mesjid Nabawi dan Masjidil Haram. Annas Ibn Malik mengatakan bahwa Nabi saw bersabda :
صَلاَةُالرَّجُلِ فِيْ بَيْتِهِ بِصَلاَةٍ وَصَلاَ تُهُ فِيْ مَسْجِدِ الْقَبَا ئِلِ بِخَمْسِ وَعِشْرِيْنَ صَلاَةٍوَصَلاَةٌ فِيْ الْمَسْجِدِ الَّذِيْ يَجْمَعُ فِيْهِ بِخَمْسِ مِأَةِصَلاَةٍ وَصَلاَةٌ لِيْ فِىالْمَسْجِدِالأَْقْصى بِخَمْسِيْنَ أَلْفِ صَلاَةٍ وَصَلاَةٌ فِىالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِأَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ
Sholat seseorang di rumahnya berniali satu sholat sedang sholat di mesjid bernilai 25 sholat. Kemudian sholat yang dikerjakan di mesjid secara berjamaah bernilai 50 sholat sedang sholat di mesjid Aqso bernilai 50.000 dan sholat di masjidil Haram bernilai 100.000.(HR.Ibnu Majah)
Amal kebajikan yang dituntun berdasarkan petunjuk syariah keagamaan lainnya. Misalnya bersedekah akan memberkahi harta kita dan menolak bala sebagaimana Nabi saw mengatakan :
أَلصَّدَ قَةُ تُدْ فَعُ الْبَلاَ
Bahwa sadaqoh itu menolak bala.
Demikian pula menolong orang lain, memperbanyak ibadah-ibadah sunnat, dll.
Dengan demikian jelaslah sudah, tabaruk memiliki pengertia khusus yakni mencari berkah pada sesuatu yang telah ditunjuksyariah yang biasanyaterletak pada fadhilah suatu perbuatan, baik yang diperintahkan kita untuk mengerjakannya (kewajiban agama), anjuran (sunat), meninggalkan yang dilarang agama (haram).
Ke dua
Ditinjau dari segi logika ketauhidan adalah jelas bahwa berkah hanya ada pada Allah SWT. Seseorang hanya akan memperolehnya dengan cara mengikuti petunjukNYA. Dari sini juga dapat dipahami landasan ketauhidan kita yang harus diyakini bahwa berkah hanyalah dari Allah.bila kita mencari berkah bukan pada Allah berarti kita telah menyimpang dari kehendak ketauhidan itu sendiri yang bersifat tunggal, absolut bagi Allah. Bertauhid berarti meniadakan kekuasaan, kekuatan, kelebihan, keberkahan, keagungan, dan ketergantungan pada selain Allah. Tidak boleh ada dualisme berkah / pengertian menduai (misal pada Allah dan pada kekuatan lain semisal benda pusaka, kuburan keramat, wali, batu, tahi kerbau, dll.). Jika mendua berarti telah berbuat syirik.
Ketauhidan pada diri seseorang akan memberikan ketenanngan lahir dan batin pada orang tersebut karena lepasnya segala tujuan kecuali mencari harapan satu-satunya kepada Allah. Jiwanyapun selalu senang bertaqarub / mendekatkan diri kepada Allah secara langsung agar dapat merasakan nikmatnya dalam lautan taqarub. Dalam lautan taqarub itulah ia merasakan akan kebesaran, keagungan , kekuasaan, dan keberkahan yang Maha Agung yang tiada bandingan dan sekutunya (walam yakun lahu kufuan ahad) sehingga dalam prilaku dan pikirannya tidak ada lagi bayangan ada kesamaan dan penyerupaan kemampuan, keagungan, kekuasaan, dan keberkahan selain pada Tuhannya. Inilah ajaran ketauhidan yang murni bahwa harapan sepenuhnya diaplikasikan kepada Allah secara langsung. Jadi alangkah sangat bertentangannya jika seseorang mengaku dirinya muslim yang bertauhid masih saja melakukan tabaruk kepada sesuatu yang bukan kepada Allah atau menyalahi dari titahNYA. Bagaimana mungkin benda-benda atau kubur keramat, wali-wali yang telah meninggal dunia dapat dijadikan mediator agar Allah memberikan berkah kepada mereka ? sementara cara-cara itu tidak diajarkanNYA. Terlebih lagi justru bertentangan dengan norma-norma perintahNYA dan logika ketauhidan.
Ke tiga
Tenaga dalam Islamy khususnya TDI Nurullah ingin menjalankan norma ketauhidan secara konsekuen dan takluk kepada batas-batas syariah. Berkait erat antara tenaga dalam dengan masalah tabaruk kepada benda-benda atau kubur keramat, dalam TDI Nrullah justru hal demikian dilarang. Alasannya karena tabaruk seperti demikian tidak ada hubungannya dengan tenaga dalam terlabih lagi bertentangan dengan jiwa ketauhidan dan agama. Minimal dalam arti logika ketauhidan. Mengapa justru dilarang ? karena pada kenyataannya hati-jiwa menjadi mendua tidak lagi terfokus pada tawakal langsung kepada Allah. Padahal suatu td sangat memprioritaskan pada tawakal langsung kepada Allah SWT.
Ada orang berkata, “Bukankah benda-benda itu keramat atau mengandung kekuatan karena Allah juga yang melimpahkan kekuatan pada benda itu, mengapa tidak kita manfaatkan ? Jawabannya sbb :
Darimana anda yakin benda-benda itu secara langsung diberkati Tuhan ? apakah justru sebaliknya merupakan limpahan kekuatan setan untuk menipu orang ? justru perkataan itu sulit dibuktikan. Bila dijawab “ya, bahwa Tuhan secara langsung memberkatinya” maka akan timbul pertanyaan lain, apakah semua benda di alam ini dapat dimanfaatkan untuk bertabaruk ? apakah juga berarti boleh bertabaruk pada rantai babi ? sebab apa ia merupakan berkat langsung dari Allah ? jika tidak, mengapa ? padahal anda memperbolehkan bertabaruk pada benda-benda tertentu dan kubur keramat ? apa bedanya dan mengapa harus dibedakan ?
Pada kenyataan di lapangan, sekalipun terkadang benda-benda itu membuahkan hasil suatu kekuatan, namun selalu saja sifatnya merusak kejiwaan si pemakainya sebab persangkaannya telah keliru memahami Tuhan sebagai Pelindung yang sesungguhnya. Di samping secara jelas sudah berbeda dengan masalah td, di mana faktor keterampilan dan kemampuan diri yang harus ditampilkan dan diolah bukan memanfaatkan benda. Di sini terjadi penyamaran pengakuan. Mengaku menggunakan td tetapi justru memanfaatkan suatu benda untuk bertabaruk kepadanya.
Tenaga dalam Islamy seharusnya selalu mendasarkan pada olah jiwa untuk selalu bertauhid kepada Allah agar tawakal kepadaNYA benar-benar dapat dilakukan. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an, sbb :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ(159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS.Ali Imran:159)


SISTEM TDI-N DAN KELEBIHANNYA
1. Tidak bertentangan dengan Aqidah Islam yang Murni.
2. Menjalankan Syariat Islam secara konsekuen.
3. Tidak menggunakan sistem pernafasan. Artinya tidak diperlukan pengolahan nafas sekian waktu.
4. Cepat dan ringkas. Hanya dalam waktu antara 10 s/d 15 menit sudah dapat difungsikan/diperoleh.
5. Secara instans dan cepat serta praktis memperoleh tenaga Izzatus Sugro (prana) dan Izzatul Kubro tanpa latihan bertahun-tahun.
6. Dapat dirasakan energinya pada sebagiannya
7. Tidak diperlukan adanya latihan khusus diwaktu atau keadaan tertentu.
8. Memiliki banyak fungsi yang tak terkirakan dan tak terbayang sebelumnya.
9. Memiliki kemampuan Dauble Gardan – antara ketenangan dan sewaktu emosional.
10. Tidak memiliki efek samping negatif misalnya menjadi pemarah, sombong, berwatak aneh-ganjil.
11. Mempengaruhi diri untuk menyukai berbuat kebaikan, berakhlak mulia dan mempertebal iman serta mendorang diri untuk suka beribadah.
12. Tidak menggunakan Zimat, Tawasulan, Susuk, Untalan, Sihir ilmu hitam/magic, bersahabat dengan Jin. Karena semuanya dapat mengakibatkan orang menjadi bertingkah aneh, pesimis, pemarah, sombong, kerasukan hingga gila.
13. Amalan yang dibaca dapat dipertanggungjawabkan secara sunnah keagamaan karena berlandaskan hadis Nabi Muhammad saw.
14. Tidak diberikan untuk orang-orang nonMuslim.
15. Menunjang untuk usaha kehidupan duniawi seperti dagang, pekerja profesional, jasa, dll.

Tenaga Dalam Islamy (TDI)Nurullah merupakan sistem perlindungan diri otomatis dan praktis, hanya 10 menit sudah diperoleh beragam kemampuan. sangat diminati oleh banyak kalangan karena praktis dan berdasar aqidah murni (tanpa zimat, tawasul, susuk, Jin, sesaji,dll)

Insya Allah 10 Menit selesai. Terlindungi dari Penganiya- yaan, Perampokan, penjambretan,Menolak/binasa lawan santet/ teluh, pagar benda/rumah, mengobatii diri sendiri maupun menolong mengobati keluarga sendiri, memperkuat iman, &Rezki.

Ingat sistem TDI-Nurullah Tidak pakai zimat,Jin,susuk,Tawasul

Lindungi diri anda dengan aqidah Islam Murni & kalimat Allah

Jarak Jauh via Telepon Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), kirim bukti rek.Bank BNI Syariah No.0092382253 atau Bank Mega 02-061-00-20-11755-3, sertakan Poto anda, alamat lengkat, telpon rumah dan HP yang dapat dihubungi secara pribadi.

Jika datang sendiri ke alamat,
Paket A : Standard bea hanya Rp.350.000,-(Tiga ratus lima puluh ribu rupiah)
Paket B : Plus kemampuan pengobatan (syifa), bea Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah)
Paket C : Plus miftahur rizki (daya tarik rezki) bea Rp. 950.000,- (sembilan ratus lima puluh ribu rupiah)
Paket D : TDI Program Khusus kuadrat Bea Rp.2.500.000,-(dua juta lima ratus rupiah)
semua memperoleh Bonus buku,CD,boleh konsultasi agama Hk.Islam, waris,fiqh,Tauhid & Tasawuf

d/a.Majlis Ta`lim Nurullah

Jl.Rawasari 18 No.2 Banjarmasin Kalimantan Selatan Telp. 0511-7444447
tiap hari

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ(41)

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri karena teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka.QS As Syura 41

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ(196)

Berkata Nabi Ibrahim as : Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.QS Al A`raf 196

BERDASARKAN AQIDAH DAN SYARI`AH ISLAM YANG MURNI
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ *

(Arti)Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w selalu memohon perlindungan dari suratan takdir yang buruk, dari ditimpa kecelakaan, dari keghairahan musuh dan dari terkena bala (HR.Bukhari,Muslim,Nasaa`I & Ahmad)
Sistem kelebihan TDI Nurullah

SISTEM TDI-N DAN KELEBIHANNYA
1. Tidak bertentangan dengan Aqidah Islam yang Murni.
2. Menjalankan Syariat Islam secara konsekuen.
3. Tidak menggunakan sistem pernafasan. Artinya tidak diperlukan pengolahan nafas sekian waktu.
4. Cepat dan ringkas. Hanya dalam waktu antara 10 s/d 15 menit sudah dapat difungsikan/diperoleh.
5. Secara instans dan cepat serta praktis memperoleh tenaga Izzatus Sugro (prana) dan Izzatul Kubro tanpa latihan bertahun-tahun.
6. Dapat dirasakan energinya pada sebagiannya
7. Tidak diperlukan adanya latihan khusus diwaktu atau keadaan tertentu.
8. Memiliki banyak fungsi yang tak terkirakan dan tak terbayang sebelumnya.
9. Memiliki kemampuan Dauble Gardan – antara ketenangan dan sewaktu emosional.
10. Tidak memiliki efek samping negatif misalnya menjadi pemarah, sombong, berwatak aneh-ganjil.
11. Mempengaruhi diri untuk menyukai berbuat kebaikan, berakhlak mulia dan mempertebal iman serta mendorang diri untuk suka beribadah.
12. Tidak menggunakan Zimat, Tawasulan, Susuk, Untalan, Sihir ilmu hitam/magic, bersahabat dengan Jin. Karena semuanya dapat mengakibatkan orang menjadi bertingkah aneh, pesimis, pemarah, sombong, kerasukan hingga gila.
13. Amalan yang dibaca dapat dipertanggungjawabkan secara sunnah keagamaan karena berlandaskan hadis Nabi Muhammad saw.
14. Tidak diberikan untuk orang-orang nonMuslim.
15. Menunjang untuk usaha kehidupan duniawi seperti dagang, pekerja profesional, jasa, dll.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.